Minggu, 27 September 2015

Sediakan Sirkuit Layak untuk Pehobi Cornering..!

4

Bro n sist, postingan ane sebelumnya berhubungan erat dengan kegiatan yang rutin dilakukan setiap malam minggu di bilangan Monas, Masjid Istiqlal dan sekitarnya. Kata “Monasco” barangkali sering didengar, namun sedikit yang tahu maknanya, Ane juga samar mengartikan “Monasco” ini. Ada yang bilang Monasco adalah rute balap yang melintasi Monas dan Masjid Istiqlal, ada lagi yang mengatakan bahwa Monasco adalah nama sebuah perkumpulan yang sering melakukan aksi mirip balapan di Monas dan sekitarnya.
Well..apapun itu, menjadikan jalanan umum sebagai tempat memacu adrenalin jelas salah.
Tapi kenapa yah, para “adrenalin junkie”, “speed junkie”. dan “riding skill junkie” ini tidak melampiaskan hasratnya ke sebuah lingkungan tertutup bernama sirkuit? Jawabannya jelas deeh..!
  • Sirkuit Sentul sangat jauh dari Jakarta, riding dari Jakarta menuju Sentul saja bisa 2 jam..belum macet..!
  • Biaya sewa sirkuit terbilang mahal..
  • Aspal sirkuit Sentul penuh tambalan..
nukilan peta Monasco
Eh..ternyata di jalan dalam kota Jakarta menyediakan aspal kualitas prima dan tikungan dengan vertical dan horizontal alignment yang nikmat sekali untuk dipakai menikung…!! Jika ente pernah melewati stasiun Gambir, silakan jalan terus di Jl. Medan Merdeka Timur, setelah pintu gerbang Pertamina, silakan belok ke kanan, menuju masjid Istiqlal..Naah..itulah belokan yang menurut ane nikmat untuk menikung…!! Kalau perlu pakai “knee down”..!! Padahal waktu beberapa kali ane menikung dengan ektrim di situ, ane sama sekali tak tahu menahu mengenai apa itu Monasco..!! So, secara insting, lokasi ini memang “menggemaskan” untuk menikung.
Ada lagi sebuah jalan di bilangan Bintaro yang memiliki aspal mulus dan tikungan yang mantab..disitu bahkan Komunitas Cornering sering berlatih.
Namun aturan adalah aturan..dan resiko kecelakaan selalu mengintai. Jalanan dengan aspal semulus apapun, jika itu adalah jalanan umum, maka tidak boleh dipakai untuk kebut-kebutan. Undang-Undang no.22 tahun 2009 menyatakan jelas bro..!!
Lhaa..lalu gimana nih penyaluran hobby bermotor yang ekstrim ini harus dilampiaskan?
Sebentar..kita bahas dulu..
Pertama..bedakan dulu antara kegiatan balap liar dengan hobby cornering. Balap liar berarti adu kebut mencapai titik finish secepat-cepatnya..dan dilakukan di jalanan umum. Sementara…hobby cornering tidak mengejar garis finish, namun menikmati proses berbelok dengan menerapkan skill. Nah, jelas kan bedanya..!!
Namun terkadang orang awam menyamaratakan (bukan mengasmarantakan) antara kegiatan balap liar dan hobby cornering. Sayang sekali ya?
Circuit Monaco..dalam kota lho..
Kalau melihat Monaco, sebuah negara yang sering menjadi tuan rumah kejuaraan balap bergengsi seperti F1, mereka menggelar balapan itu di jalan umum lho..Tapi ya..seperti kita ketahui di sana, infrastruktur dan gaya hidup masyarakatnya mendukung untuk itu. Disana pastinya gak ada pedagang kaki lima yang sembarangan menyeberang.
Bagaimana dengan Jakarta? kok susah ya cari sirkuit atau lokasi untuk menyalurkan hobby cornering? Yah..akibatnya jalanan umum yang “sepi” sering dipakai untuk cornering, dengan pertimbangan, tidak akan ada objek berjalan lain yang melintas. Namun ntar dulu, pernah suatu ketika, pukul 23.00 WIB ane menikung hampir rebah di tikungan Monasco dan tiba-tiba dari arah berlawanan melintas seorang penjual kopi bersepeda dengan santainya. Alhasil ane panik, namun untunglah gak melakukan sudden braking sehingga gak jatuh. Moral dari kejadian ini, sesepi apapun jalanan umum, gak bisa dijamin keamanannya.
Balik ke urusan sirkuit, para pehobi cornering membutuhkan jalanan selevel sirkuit nih..kalau mengharapkan pemerintah kayaknya percuma yah..Lalu bagaimana menyalurkan hobi cornering yang layak dan aman?
Bisa gak ya wilayah semacam Monas atau Bintaro itu ditutup pada hari-hari atau jam tertentu untuk menyalurkan hasrat cornering..?